Ekosistem Mangrove dan Payau

KARAKTERISTIK EKOSISTEM MENGROVE DAN PERAIRAN PAYAU

(Studi Kasus : Mangrove dan Perairan Payau Blanakan, Subang)

                                                                                                                            Kelompok 15*

 

ABSTRAK

Praktikum ekosistem perairan payau dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 13 November 2011, di dusun Kertamukti Timur Desa Blanakan Subang, Jawa Barat. Praktikum ini bertujuan mengetahui jenis bakau baik bentuk daun, ukuran batang, lingkar batang, jenis akar maupun jenis daun yang terdapat pada mangrove, mengetahui karakteristik perairan payau, vegetasi mangrove, dan interaksi ekosistem yang terjadi di dalamnya. Metode yang digunakan yaitu metode sampling, meliputi teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapang melalui tiga substasiun. Sampling data terdiri dari tiga macam parameter yaitu parameter kimia, biologi, dan fisika. Parameter fisika terdiri dari warna, kecerahan, suhu, kedalaman, tipe subsrat, salinitas, dan densitas. Parameter kimi yakni pengukuran pH sedangkan parameter biologi di antaranya plankton, perifiton, neuston, nekton, dan bentos. Dari hasil pengamatan parameter didapatkan data yaitu warna perairan estuari yang berwarna cokelat, tingkat kecerahan berkisar antara 0,5-0,15 m, suhunya berkisar antara 29-30 ºC, kedalaman perairan antara 0,43-0,53 m, dan tipe substrat berupa lumpur halus. Parameter kimia yang diamati adalah pH yang diukur dengan kertas indikator pH dengan hasil pH 7, sedangkan salinitas dan densitas diukur dengan refraktometer yang nilainya secara berturut-turut 4 permil dan 1,014 ind/m².

Perairan payau adalah suatu badan air setengah tertutup yang berhubungan langsung dengan laut terbuka, dipengaruhi oleh gerakan pasang surut, dimana air laut bercampur dengan air tawar dari buangan air daratan, perairan terbuka yang memiliki arus, serta masih terpengaruh oleh proses-proses yang terjadi di darat. Komponen penyusun terdiri dari komponen abiotik yang meliputi parameter fisik dan kimia sedangkan komponen biotik meliputi parameter biologi. Parameter fisika mencakup warna, kecerahan, suhu, kedalaman, dan tipe subsrat. Parameter Kimia yaitu pH dan parameter biologi meliputi plankton, perifiton, bentos, neuston, nekton, dan tumbuhan air. Semua karakteristik tersebut merupakan faktor pembatas yang mempengaruhi kelangsungan hidup organism ekosistem payau.

Hutan mangrove merupakan suatu komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa spesies pohon atau semak yang mempunyai kemampuan adaptasi untuk tumbuh di lingkungan laut yang mempunyai salinitas lebih tinggi daripada air tawar. Jenis tanaman mangrove yang paling dominan adalah Avicennia, Rhizophora, dan Ceriops.

PENDAHULUAN

Ekosistem dapat diartikan sebagai hubungan timbale balik antara suatu komunitas yang berupa kumpulan spesies atau organism yang mendiami suatu tempat dengan lingkungan abiotiknya. Ekosistem perairan payau merupakan suatu zona peralihan air tawar dengan air laut, dimana organisme yang tumbuh didominasi oleh vegetasi hutan bakau atau mangrove. Estuaria (aestus, air pasang) menurut definisi Pritchard (1967) dalam Odum (1993) adalah suatu badan air setengah tertutup yang berhubungan langsung dengan laut terbuka, dipengaruhi oleh gerakan pasang surut, dimana air laut bercampur dengan air tawar dari buangan air daratan. Contohnya, muara sungai, teluk pantai, rawa pasang surut, dan badan air di balik pantai. Ciri-ciri ekosistem perairan estuari adalah arus yang tenang, residence time yang lama, adanya stratifikasi suhu, oksigen terlarut lebih rendah dari perairan mengalir, dan tidak ada adaptasi khusus dari organisme penghuninya. Dari hal tersebut terlihat bahwa suhu adalah faktor pengontrol yang mempengaruhi aktifitas metabolisme dalam rantai makanan. Cahaya merupakan faktor abiotik yang sangat menentukan laju produktifitas primer perairan. Cahaya matahari ini merupakan faktor pembatas yang cepat memudar karena kedalaman dan kekeruhan (Boyd 1982 in Hardiat Riswanda 1997).

Menurut Nybakken (1992) organism yang tumbuh di perairan payau didominasi oleh vegetasi hutan bakau atau mangrove. Istilah mangrove merupakan perpaduan antara bahasa portugis mangue (tumbuhan yang tumbuh dipinggir laut) dan bahasa inggris grove (komunitas tumbuhan yang tumbuh dipinggir laut) (Mahmud 2002)., Mangrove adalah vegetasi yang tumbuh dengan aik pada zona pasang surut sepanjang garis pantai tropis diantaranya rawa, delta, dan muara sungai. Sebagian mangrove dijumpai sepanjang garis besar pantai bersubsrat lumpur yang terbebas dari pengaruh angin dan arus. Mangrove juga dapat tumbuh pada pantai berpasir, terumbu karang, dan sekitar pulau. Perbedaan antara ekosistem mangrove dengan sungai dan danau terlihat dari perbedaan salinitas perairan. Slinitas perairan mangrove lebih tinggi disbanding dengan air tawar karena, terdapat pencampuran antara air payau dengan air laut (Odum 1993).

Dari segi biologi mangrove berfungsi sebagai pemelihara keanekaragaman fauna dan sumber energy utama di daerah mangrove dan sekitarnya (Mahmud 2002). Ekositem mangrove menyokong kehidupan berbagai fauna karena, hutan mangrove merupakan daerah asuhan (nursery ground), daerah pemijahan (spawning ground), dan daerah pencari makan (feeding ground) berbagai jenis ikan, udang, dan biota akuatik lainnya (Utami 2002). Secara fisik, hutan mangrove menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai, tebing sungai, sebagai perangkap zat-zat pencemar dan limbah serta sebagai kawasan penahan air (Mahmud 2002). Perakaran dari pohon mangrove yang kokoh memiliki kemampuan untuk meredam pengaruh gelombang, menahan lumpur, melindungi pantai dari erosi, gelombang pasang, dan angin topan (Utami 2002). Struktur akar mangrove yang kusut menjadi perangkap bagi sedimen yang ada disekitarnya. Vegetasi mangrove yang umumnya tumbuh pada daerah muara yang merupakan daerah pemupukan sedimen yang berasal dari sungai memiliki kemampuan menyerap dan memanfaatkan logam berat yang terkandung di dalam subsratnya (Mahmud 2002).

Fungsi mangrove dari segi ekonomi adalah dapat dilihat dari pemanfaatannya oleh masyarakat yang tinggal di daerah sekitar hutan mangrove. Tercatat dari sekitar 67 produk yang dapat dimanfaatkan dari hutan mangrove, di antaranya makanan, minuman, obat-obatan, peralatan rumah tangga, dan pertanian (Aksomkoae 1993). Pemanfaatan hutan mangrove antara lain untuk kepentingan perdagangan, industry pariwisata, pertanian, produksi hutan, pemukiman, industry, dan fasilitas perkapalan walaupun beberapa kegiatan tersebut dapat mengganggu daerha estuary dan menyebabkan berkurangnya jenis spesies yang hidup di perairan (Mahmud 2002).

Tujuan diadakannya praktikum di Blanakan, Subang antara lain untuk mengetahui komponen biotic dan abiotik sebagai komponen penyusun perairan payau dengan mengkaji beberapa aspek parameter yaitu fisika, kimia, dan biologi, mengetahui interaksi hubungan timbale balik antara komponen, mengetahui pengaruh lingkungan terhadap komponen penyusun ekosistem,  mempelajari proses terjadinya suksesi, dan mempelajari pola adaptasi yang terjadi pada perairan payau.

 

BAHAN DAN METODE

Praktikum lapang ekosistem perairan estuari dilakukan di Blanakan yang terletak di kabupaten Subang, Jawa Barat. Kegiatan ini dilakukan pada hari Minggu 13 November 2011 pada pukul 07.30-10.00 WIB di wilayah perairan Blanakan, Subang .

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ekosistem perairan estuari diantaranya yaitu transek kuadrat untuk pembatas wilayah pembagian substasiun. Termometer untuk mengukur suhu perairan.  Secchi disk untuk mengetahui tingkat kecerahan suatu perairan. Pipa paralon dengan diameter 3,5 inchi dengan panjang 2 meter untuk pengukuran kedalaman perairan dan pengambilan sampel bentos. Saringan kasar berfungsi untuk mengambil nekton dan neuston. Plankton net berfungsi untuk mengambil plankton. Ember bervolume 10 liter untuk pengambilan sampel plankton yang kemudian airnya dimasukan ke planktonnet untuk disaring. Sikat gigi untuk menyikat sampel yang menempel pada substrat dalam pengambilan perifiton. Botol film berfungsi sebagai tempat menyimpan sampel untuk dianalisis di laboratorium. Kertas label berfungsi untuk memberi nama sampel agar tidak tertukar. Kerat galeng berfungsi untuk mengikat botol film pada ujung planktonnet. Refraktometer untuk mengukur salinitas dan densitas perairan. Tali rafia 100 m untuk penentuan stasiun hutan mangrove. Meteran untuk mengukur diameter pohon. Kertas pH berfungsi untuk mengukur pH perairan.

Bahan yang digunakan adalah akuades, formalin 4%, dan lugol. Akuades digunakan untuk pengencer. Formalin 4 % digunakan untuk mengawetkan sampel bentos, nekton, dan neuston. Lugol untuk mengawetkan sampel plankton dan perifiton.

Pengambilan Sampel di Lapang

Praktikum ekologi perairan dilakukan dengan pengukuran beberapa parameter yaitu parameter fisika, kimia dan biologi. Pertama, parameter fisika yaitu warna perairan, tipe substrat, suhu, kecerahan, kedalaman, salinitas dan densitas. Warna perairan diamati secara visual dan hasilnya adalah berwarna cokelat. Tipe substrat diamati juga secara visual dengan mengamati substrat dari dasar payau berupa lumpur halus. Suhu diamati menggunakan termometer yang dicelupkan dalam air. Tingkat kecerahan diukur menggunakan secchi disk. Kedalaman diukur dengan menggunakan paralon berdiameter 3,5 inch dan telah diberi skala yang diletakkan vertikal pada dasar perairan.

Parameter kimia yang diamati adalah tingkat keasaman atau pH menggunakan kertas indikator pH. Caranya dengan mencelupkan kertas indikator pH dalam perairan dan mencocokkan warnanya dengan warna pada trayek pH. Salinitas dan densitas diukur menggunakan refraktometer.

Parameter biologi yang dapat diambil berupa plankton, perifiton, neuston, nekton, dan benthos. Alat yang digunakan untuk pengambilan plankton adalah planktonet, botol film, ember, karet gelang, dan plastik kiloan. Cara kerja planktonet adalah dengan mengikat botol film pada ujung planktonet dengan karet gelang. Lalu itu digunakan untuk menyaring plankton dari air yang di ambil mengunakan ember. Plankton yang tersaring akan tertampung pada botol film sedangkan nekton diambil menggunakan jaring ikan serta saringan kasar dan saringan halus dapat digunakan untuk menangkap neuston. Pengambilan bentos dengan menggunakan paralon dan saringan. Pengambilan perifiton  dilakukan pengerikan dengan sikat gigi pada benda-benda yang berada di substrat seperti batu, kayu, maupun daun.

Analisis Laboratorium dan Data

Sampel yang didapatkan dari komunitas ekosistem payau di Blanakan, Subang dilanjutkan dengan analisis laboratorium. Dalam hal ini akan dibahas tiga parameter yaitu parameter fisika, kimia, dan biologi. Parameter biologi dibahas lima unsur penyusunnya di antaranya plankton, nekton, neuston, perifiton, bentos, dan tumbuhan air (vegetasi mangrove).

Kepadatan Bentos

Bentos yaitu organisme yang hidup di dasar perairan. Bentos digolongkan ke dalam fitobentos dan zoobentos. Kepadatan bentos adalah banyaknya bentos yang terdapat dalam suatu ekosistem per satuan . Hewan bentos hidup relatif menetap sehingga dapat dijadikan sebagai indikator kualitas perairan (Odum, 1998)

X =     n

M

Keterangan :

X          : Kepadatan bentos (Ind/ )

n          : Jumlah ulangan

M         : Luas bukaan mulut alat (62 x 10-4 m2 = 0,004558 m2)

Kelimpahan plankton

Plankton adalah hewan perairan yang hidup mengapung di permukaan air dimana pergerakannya tergantung pada arus air. Plankton dibedakan menjadi fitoplankton dan zooplankton.

Ni =              Oi x Vr x n

Op x Vo x Vs x nP

Keterangan :

Ni         : Kelimpahan plankton               (individu/L)

Oi         : Luas gelas penutup                 (324 mm2)

Op        : Luas lapang pandang              (1,306 mm2)

Vo        : Volume satu tetes air contoh    (0,05 ml)

Vr         : Volume botol contoh               (30 ml)

Vs        : Volume air yang disaring         (100 L)

n          : Jumlah individu tercacah          (individu)

p          : Jumlah lapang pandang           (5)

x          : Ulangan                                  (3)

Kelimpahan perifiton

Perifiton adalah organisme yang menempel pada subsratnya. Biasanya peifiton menempel pada benda-benda seperti batu, kerang, kayu, daun, dan sebagainya. Keberadaan perifiton di perairan umum tergantung dari unsur hara yang tersedia

Ni =              Oi x Vr x n

Op x Vo x A x xP

Keterangan :

Ni         : Kelimpahan perifiton                (individu/L)

Oi         : Luas gelas penutup                 (324 mm2)

Op        : Luas lapang pandang              (1,306 mm2)

Vo        : Volume satu tetes air contoh    (0,05 ml)

Vr         : Volume botol contoh               (30 ml)

A          : Luas kerikan                            (4 cm2)

n          : Jumlah individu tercacah          (individu)

p          : Jumlah lapang pandang           (5)

x          : Ulangan                                  (3)

Analisis data pada parameter fisika, diukur dari tingkat kecerahan di setiap substasiunnya. Tingkat kecerahan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Kecerahan Perairan

Kecerahan =      D1 + D2

2

Keterangan :

D1 : Titik dimana Secchi disk mulai tidak terlihat ketika dibenamkan (m)

D2 : Titik dimana Secchi disk mulai terlihat ketika diangkat ke arah permukaan air (m)

Indeks Nilai Penting

INP = RDi + RFi + RCi

Keterangan :

INP : Indeks Nilai Penting

RDi : Kerapatan relative mangrove jenis ke-i

RFi  : Frekuensi relative mangrove jenis ke-i

RCi   : Penutupan relative mangrove jenis ke-i

Keterangan :

Fi       : frekuensi mangrove jenis ke-1

Pi       : petak contoh / plot ditemukannya spesies ke-1

ni        : jumlah tegakan / pohon jenis ke-1

CBH   : lingkaran pohon setinggi dada

A        : luas total area plot

Sp      : jumlah seluruh plot

Sni      : jumlah seluruh tegakan

F        : frekuensi seluruh jenis

Ci       : Penutupan mangrove jenis ke-1

 

 

 

4 pemikiran pada “Ekosistem Mangrove dan Payau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s