Enzim

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Enzim atau biokatalisator adalah katalisator organik yang dihasilkan oleh sel. Enzim sangat penting dalam kehidupan, karena semua reaksi metabolisme dikatalis oleh enzim. Jika tidak ada enzim akan menyebabkan aktivitas enzim terganggu, sehingga reaksi metabolisme sel akan terhambat. Suatu reaksi kimia yang berlangsung dengan bantuan enzim memerlukan energi yang lebih rendah. Dengan demikian, enzim berfungsi untuk menurunkan energi aktivasi. Reaksi-reaksi enzimatik dibutuhkan agar bakteri dapat memperoleh makanan atau nutrient dalam keadaan terlarut yang dapat diserap ke dalam sel, memperoleh energi Kimia yang digunakan untuk biosintesis, perkembangbiakan, dan pergerakan (Timotius 1982).

Struktur enzim tersusun atas bagian protein dan bukan protein. Bagian protein disebut apoenzim, dan bagian non protein disebut kofaktor. Kofaktor dapat berupa ion logam (Cu, Mg, K, Fe, Na), atau koenzim yang berupa bahan organik, misalkan vitamin B (B1, B2).  Jenis-jenis enzim terdiri dari koenzim, kofaktor, apoenzim, holoenzim, dan gugus prostetik . Koenzim adalah komponen bukan protein yang membantu aktivitas enzim dalam bentuk senyawa organik. Kofaktor adalah komponen bukan protein yang membantu aktivitas enzim dalam bentuk senyawa anorganik. Apoenzim adalah bagian dari enzim yang berupa protein. Holoenzim adalah seluruh bagian enzim yang strukturnya sempurna dan aktif mengkatalisis bersama koenzim/kofaktor.  Gugus prostetik adalah kofaktor atau koenzim yang terikat kuat pada enzim.

Adapun sifat dari enzim itu sendiri yaitu kerja enzim bersifat spesifik atau khusus, artinya bahwa satu enzim hanya dapat bekerja pada satu substrat, enzim bekerja pada suhu tertentu, berkerja pada derajat keasaman (pH) tertentu, kerja enzim dapat bolak-balik, artinya selain dapat memecah substrat juga dapat membentuk substrat dari penyusunnya. Hal-hal yang dapat mempengaruhi kerja enzim di antaranya adalah suhu, derajat keasaman (pH), konsentrasi enzim, jenis substrat, penimbunan hasil akhir, pengaruh aktivator/penggiat, dan pengaruh inhibitor/penghambat (Anonim 2009).

Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk menentukan sifat dan susunan air liur dan menentukan sifat dan susunan getah lambung.

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum yang bertemakan enzim dilakukan di Laboratorium Biokimia I, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Waktu pelaksanaan praktikum  pada tanggal 13 November 2011 pukul 13.00-16.00 WIB.

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kertas saring, gelas piala, gelas wool, urinometer, tabung reaksi, pipet tetes, pipet volumetrik 5 ml dan 10 ml, balp, labu erlenmeyer, penangas es, dua buah penangas air (untuk suhu 37o dan 80oC), dan penjepit tabung.

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum adalah air kran, air akuades, air liur praktikkan sebagai probandus, asam asetat encer, pereaksi FF dan MO, pereaksi Biuret, perekasi Millon, pereaksi Molisch, pereaksi Khlorida, endapan putih amorfous, larutan sulfat dan osfat, es batu, larutan HNO3 10%, AgNO3 2%, HCl 10%, BaCl2, CuSO4, urea, fosfomolibdat, larutan ferosulfat,  larutan kanji 1%, pereaksi yodium, dan pereaksi Benedict.

Prosedur Percobaan

Praktikum mengenai enzim terdiri atas dua prinsip kerja. Prinsip kerja yang pertama adalah penentuan sifat fisik dan susunan air liur. Prinsip kerja yang pertama ini terdiri dari lima macam uji. Bahan yang dibutuhkan adalah air liur. Air liur ditampung sebanyak 50 ml dari probandus. Agar stimulir air liur dari probandus banyak, mulut probandus diberi kertas saring yang dicelupkan sedikit asam asetat encer lalu dikunyah-dikunyah di dalam mulut probandus atau di letakkan di bawah lidah. Setelah air liur terkumpul dan ditampung ke dalam gelas piala, air liur disaring dengan gelas wool. Air liur yang telah disaring kemudian diukur bobot jenisnya dengan urinometer.

Uji bobot jenis air liur. Air liur secukupnya dimasukkan ke dalam gelas ukur. Masukkan urinometer untuk mengetahui bobot jenisnya.

Uji lakmus, uji FF dan MO. Sebanyak 2 ml air liur ditempatkan dalam tabung reaksi masing-masing. Pereaksi dimasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi yang berisi air liur. Kemudian diamati perubahan yang terjadi.

Uji terhadap Biuret, Millon, dan Mollisch. Pada uji Biuret, 3 ml air liur dalam tabung reaksi ditambahkan dengan 1 ml NaOH 10%, kemudian kocok sebentar lalu ditambahkan 1 tetes CuSO4. Amati perubahan warna yang terjadi. Hasil reaksi positif berupa larutan berwarna ungu. Untuk uji Millon, dilakukan penambahan 5 tetes peraksi Millon ke dalam 3 ml saliva (air liur) kemudian dipanaskan selama 5 menit dan diamati perubahan warna dan keberadaan endapan. Untuk uji Mollisch dilakukan penambahan pereaksi Mollisch sebanyak 2 tetes ke dalam 5 ml saliva, setelah dikocok sebentar kemudian ditambahkan 3 ml H2SO4 dengan cara dialirkan pelan-pelan dan pipetnya ditempelkan di dinding tabung, kemudian diamati hingga terdapat lingkaran berwarna ungu diantara cairan.

Uji klorida. Sebanyak 3 tetes larutan HNO3 10% ditambahkan ke dalam 2 ml saliva, kemudian ditambahkan AgNO3 2% sampai terdapat endapan putih.

Uji musin. Sebanyak 1 tetes CH3COOH ditambahkan ke dalam 2 ml saliva, kemudian diamati hingga terdapat endapan putih. Uji yang kelima, yaitu uji sulfat dan fosfat. Pada uji sulfat, 2 ml saliva ditambahkan larutan HCl 10% kemudian ditambahkan BaCl2 hingga terdapat endapan putih. Pada uji fosfat 1 ml saliva ditambahkan 1ml urea, kemudian ditambahkan 1 ml fosfomolibdat kemudian ditambahkan 1 ml ferosulfat. Kemudian diamati perubahan warna yang terjadi sampai terdapat endapat berwarna biru.

Prinsip kerja yang kedua adalah pembuktian pengaruh suhu terhadap aktivitas amilase air liur. Empat tabung reaksi disiapkan dan masing-masing diisi 2 ml saliva dan 2 ml akuades dan kocok dengan baik. Setelah itu tabung 1 diletakkan pada penangas es 10oC selama 15 menit. Tabung 2 diletakkan di rak tabung reaksi pada suhu kamar (sekitar 25oC) selama 15 menit. Tabung 3 diletakkan pada penangas air yang bersuhu 37oC selama 15 menit dan tabung 4 diletakkan pada penangas air bersuhu 80oC selama 15 menit.Setelah itu masing-masing tabung reaksi diberi larutan kanji 1% sebanyak 2 ml dan dikocok dengan baik lalu diletakkan kembali pada kondisi suhu masing-masing selama 10 menit. Setelah 10 menit, masing-masing larutan di dalam tabung dibagi 2 bagian. Bagian tabung yang pertama masing-masing tabung ditambahkan beberapa tetes pereaksi yodium sedangkan bagian tabung yang lainnya masing-masing diberi 5 ml pereaksi Benedict lalu keempat tabung tersebut dipanaskan selama 5 menit. Setelah 5 menit, larutan dibiarkan sampai dingin dan diamati perubahan warna yang terjadi.

Sumber:

1)      Timotius, K.H. 1982. Mikrobiologi Dasar. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.

2)      http://biologimediacentre.com/enzim/ (diakses tanggal 18 November 2011).

3)      http://biologi.blogsome.com/2011/08/16/enzim/ (diakses tanggal 18 November 2011).

4)      [Anonim].2009.Sifat-sifat Enzim. http//e-dukasi.net (diakses tanggal 18 November 2011).

5)       http://www.scribd.com/doc/45499973/Laporan-fishew-1-jurnal (diakses tanggal 18 November 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s