Penggunaan Pipet Serologis Secara Aseptik

PENGGUNAAN PIPET SEROLOGIS SECARA ASEPTIK

  • Tujuan : Mempelajari teknik sehingga dapat memindahkan biakan kaldu dalam jumlah yang ditentukan secara aseptik
  • Hasil Pengamatan :

                Alur Prosedur

Tabung reaksi di tangan kiri

Pegang pipet di tangan kanan

Angkat sumbat pada tabung reaksi dengan cara melingkari jari kelingking

Lewatkan mulut tabung reaksi di atas api

Masukkan pipet ke dalam tabung reaksi

Hisap cairan biakan Eserichia Coli

Masukkan ke dalam tabung reaksi kosong

Lewatkan mulut tabung reaksi pada api

Tutup tabung reaksi dengan penyumbat

  • Pembahasan

E. coli adalah bakteri gram negatif yang berbentuk basil atau batang. Ukuran panjang sel E. coli rata-rata sekitar 2 mikrometer, dengan volume sel sekitar 0,7 mikrometer kubik. E. coli hidup pada suhu diantara 20 – 40˚C. Dengan rentang suhu seperti itu, E. Coli dapat tumbuh dengan baik di dalam saluran pencernaan manusia. Umumnya, bakteri E. Coli dikenal dengan sebagai bakteri pencemar perairan, yang harus dihilangkan bila ingin air yang kita minum layak. E. coli juga dikenal sebagai bakteri penyebab diare dan ganguan saluran pencernaan. Padahal, E. coli tidak seluruhnya berbahaya. Hanya sebagian kecil saja bakteri E. coli yang menyebabkan penyakit, itupun apabila pertumbuhan bakteri tidak terkendali. Bakteri E. coli pada umumnya tidak berbahaya dan dapat member keuntungan bagi manusia, dengan turut berperan dalam memproduksi vitamin K. Keberadaan E. coli sebagai flora usus malah menjadi penghalang tumbuhnya bakteri lain yang kemungkinan berbahaya tumbuh dalam usus.

Pipet merupakan alat ukur volume yang bisa memindahkan suatu volume dari suatu wadah ke wadah lainnya. Pipet dibedakan menjadi pipet volumetrik dan pipet serologis. Pipet volumetrik hanya bisa memindahkan suatu volume yang tetap, sedangkan pipet serologis atau pipet Mohr merupakan pipet yang bia memindahkan berbagai volume sampai kapasitas maksimumnya. Selain itu pipet serologis ini terbuat dari pipa kaca silinder yang lurus dan memiliki skala volume. Ketelitian pipet serologis sesuai dengan skala terkecilnya (Patnaik 2004).

Yang dimaksud sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Ketika untuk pertama kalinya melakukan pemindahan biakan bakteri secara aseptic, sesungguhnya hal itu telah menggunakan salah satu cara sterilisasi, yaitu pembakaran. Namun, kebanyakan peralatan dan media yang umum dipakai di dalam pekerjaan mikrobiologi akan menjadi rusak bila dibakar. Proses sterilisasi dibagi menjadi dua yaitu sterilisasi basah dan kering. Sterilisasi basah yaitu sterilisasi yang menggunakan autoklaf dengan temperatur 121˚C  atau 0,15 Mpa selama 15-20 menit. Serilisasi kering yaitu yaitu sterilisasi yang menggunakan oven dengan temperatur 160-170 derajat Celsius selama kurag lebih 2 jam. Sterilisasi ditujukan agar terjadi denaturasi protein dan terutama tidak aktifnya enzim yang digunakan untuk metabolisme bakteri dan perlakuan panas ditujukan untuk membunuh spora bakterinya. Sterlisasi pada medium dan alat-alat bertujuan untuk mencegah adanya bakteri yang tidak di inginkan dalam pembiakan.

Autoklaf adalah alat pemanas tertutup yang digunakan untuk mensterilisasi suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (1210C, 15 lbs) selama kurang lebih 15 menit. Penurunan tekanan pada autoklaf tidak dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme, melainkan meningkatkan suhu dalam autoklaf. Suhu yang tinggi inilah yang akan membunuh mikroorganisme. Autoklaf terutama ditujukan untuk membunuh endospora, yaitu sel resisten yang diproduksi oleh bakteri. Sel ini tahan terhadap pemanasan, kekeringan, dan antibiotik.Perhitungan waktu sterilisasi autoklaf dimulai ketika suhu di dalam autoklaf mencapai 121 °C. Jika objek yang disterilisasi cukup tebal atau banyak, transfer panas pada bagian dalam autoklaf akan melambat, sehingga terjadi perpanjangan waktu pemanasan total untuk memastikan bahwa semua objek bersuhu 121 °C untuk waktu 10-15 menit. Perpanjangan waktu juga dibutuhkan ketika cairan dalam volume besar diautoklaf sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai suhu sterilisasi. Performa autoklaf diuji dengan indikator biologi, contohnya Bacillus stearothermophilus.

 

Daftar Pustaka

Hadioetomo, Ratna Siri. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

www.sciencebiotech.com [diakses tanggal 3 Oktober 2011]

Pelczar, Michael J. 1988.Dasar-Dasar Mikrobiologi, 954. Jakarta: UI press.

http://id.shvoong.com/exact-sciences/2003954-prinsip-sterilisasi-bakteri/ [diakses tanggal 3 Oktober 2011]

3 pemikiran pada “Penggunaan Pipet Serologis Secara Aseptik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s