Falling Leaf

Jelajahan Daun Cokelat

Daun cokelat masih mencari jalan menuju batang yang dianggap sesuai dengan dirinya untuk hidup dan berkembang. Hitam putih tergambar samar-samar dalam perjalanannya. Sepi dan sendiri . Itulah yang sedang dirasakan. Tatkala hembusan angin menerpa, daun cokelat pun terhempas, melayang, terombang ambing di bawah langit biru yang terkadang cerah. Langit memandang daun cokelat dengan wajah datar. Kasihan sekali daun cokelat hidupnya tidak jelas dan tidak terarah. Ketika daun lain sudah mendapatkan batang yang sesuai dengan dirinya, daun cokelat masih melayang bebas. Daun cokelat pun terus berusaha untuk menemukan batang yang sesuai.

Suatu hari, daun cokelat bertemu dengan daun merah teman dekat yang dulu terpisah karena perbedaan visi. Kini mereka bersatu. Daun cokelat dan daun merah menghabiskan waktu bersama di bawah cerahnya langit biru nan indah. Sesaat mereka memiliki visi yang sama yaitu menemukan batang yang sesuai. Rasa sepi dan sendiri yang dirasakan daun cokelat kini telah berkurang karena kehadiran daun merah yang memberi warna dalam perjalanannya. Hari demi hari dilewati daun cokelat dan daun merah bersama-sama melayang di alam bebas yang membisu, penuh ketidakpastian.

Seiring waktu, langit biru menjadi hitam dan hitam kembali menjadi biru, saat itu daun cokelat tidak bersama lagi dengan daun merah. Daun cokelat kembali menyendiri dan terombang ambing dihempas angin yang datang dari segalah arah. Dingin dan sepi hinggap pada dirinya. Suatu waktu, tak tersadar daun cokelat mengeluarkan tetesan air. Seraya dalam hatinya berkata, “Tuhan aku capek terombang-ambing ke sana kemari, aku sepi, dan sendiri” tak tersadari butiran air menyembul di kedua sisi yang hanya tersekat oleh tulang (daun). Bantulah aku untuk menemukan batang yang sesuai, bantulah aku untuk berdiri tuhan. Saat itu, daun cokelat kembali bersemangat untuk bisa melawan hempasan angin untuk menemukan batang yang sesuai. Hari demi hari berlalu, daun cokelat masih terus semangat mencari. Tiba-tiba, daun merah kembali dan membawa kabar baik bahwa ia telah menemukan batang yang mungkin sesuai untuk daun cokelat. Mendengar hal itu, daun cokelat merasa senang, kini tak lagi terombang-ambing oleh angin. Dengan semangat dan dukungan dari daun merah, daun cokelat melawan hempasan angin. Daun cokelat pun berhasil dan kini mereka bersama-sama dalam satu batang yang sama.

Setiap hari daun cokelat dan daun merah bertemu, akan tetapi aktivitas mereka tidaklah sama walau kini hidup pada batang yang sama. Daun cokelat tidak begitu mempermasalahkan perbedaan tersebut. Misi mereka tetaplah sama yaitu hidup dan berkembang dengan baik. Hari demi hari dilewatkan dengan penuh semangat jiwa.

Langit biru menjadi orange, orange berubah menjadi hitam, dan kembali ke biru. Saat itu, datanglah terpaan angin giant dan angin jayko datang mengganggu ketenangan daun cokelat dan daun merah dalam beraktivitas. Mereka adalah angin jahat. Ternyata, hal tersebut tidak hanya dialami oleh daun cokelat dan daun merah saja. Daun-daun lainnya pun mendapatkan hembusan tidak enak dari kedua angin jahat. Mereka hanya bisa bersabar menghadapi angin tersebut. Kemarahan angin giant dan angin jayko mungkin disebabkan karena aktivitas yang dikerjakan tidak sesuai. Daun cokelat, daun merah, dan teman daun lainnya pun mengkoreksi letak ketidaksesuaian tersebut. Kini aktivitas pun kembali normal. Hari demi hari tidak ada hiruk pikuk, desahan, ataupun hempasan kedua angin jahat.

[Aktivitas daun cokelat, berhubungan langsung dengan pengembangan sumberdaya yang merupakan elemen terdepan dalam meningkatkan kinerja daun-daun lain. Elemen lain pun tak kalah penting untuk menunjang keberlangsungan rantai kehidupan].

Angin giant dan angin jayko datang kembali menggangu aktivitas daun lain terutama daun cokelat. Daun cokelat merasa terintimidasi. Apa yang dilakukannya selalu salah. Ia pun selalu mengalah dan memperbaikinya terus menerus. Aktivitas belakangan yang dialami daun cokelat terkadang normal terkadang tidak. Daun hitam rekan satu aktivitas yang sama dengan daun cokelat pun ikut mengintimidasi. Daun hitam adalah tipe daun penyuruh. Aktivitas daun hitam dihabiskan dengan menyuruh daun cokelat untuk melakukan aktivitas yang seharusnya dilakukan oleh daun hitam sendiri. Aktivitas daun hitam bertengger, berdiam diri “gumam daun cokelat”. Daun cokelat melanjutkan aktivitasnya ditambah aktivitas yang diberikan oleh daun hitam. Hanya ada satu rekan dalam satu aktivitas daun cokelat yang baik hati yaitu daun hijau. Daun hijau adalah tipe daun penolong. Ia selalu membantu daun cokelat dalam beraktivitas. Akan tetapi kekurangan dari daun hijau adalah kurang peka akan kondisi di sekelilingnya.

Tatkala suatu hari, datanglah terpaan angin giant dan jayko menghampiri daun cokelat. Kini hembusan kedua angin jahat tersebut adalah hembusan terbesar yang dialami daun cokelat. Hingga pada akhirnya daun cokelat tidak mampu menahan hembusan kedua angin jahat. Langit berubah menjadi redup. Daun cokelat pun rapuh dan melepaskan ikatannya, lalu terhempas. Daun cokelat terombang-ambing di udara. Sementara daun merah, teman dekat daun cokelat masih tetap bertahan pada batang.

Kini daun cokelat kembali mencari jalan untuk menemukan batang lain yang lebih baik. Melayang, terombang ambing di bawah langit biru, di alam bebas membisu penuh ketidakpastian, daun cokelat senantiasa semangat, optimis, dan terus berusaha melawan hempasan angin dalam menjalani aktivitasnya menemukan batang untuk disinggahi, hidup, dan berkembang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s