Kehidupan Berkomplek

Bumbu dalam Kehidupan Berkomplek

Tiba-tiba saya punya gagasan untuk menulis tentang bumbu dalam kehidupan berkomplek. Gagasan ini didapat tatkala adanya kejadian di komplek rumah saya tepatnya tadi malam 10 Februari 2015 sekitar pukul 20.00 WIB. Jarak 3 rumah dari rumah saya, tepatnya rumah ke-4 terjadi pertengkaran yang membuat tetangga di sekitarnya pada keluar untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi di luar. Ternyata, orang itu lagi yang ribut dan sekarang dengan tetangga depan rumahnya sebut saja dia ‘gonggong’ vs ‘jati’.

Memang kerap sekali gonggong ribut dengan tetangga baik depan, samping, kanan, dan kiri rumah. Watak yang keras dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Kejadian bermula saat tamu si gonggong yang mengendarai mobil APV melintasi kediaman jati, mencari tempat untuk memarkirkan kendaraannya. Terdengarlah suara tabrakan yang berasal dari mobil milik jati (mobil CRV) yang terparkir di depan rumahnya. Jati pun keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dan ternyata mobilnya ditabrak/terserempet mobil APV dan jati meminta pertanggungjawaban pemilik mobil tersebut.

Entahlah, tiba-tiba si gonggong keluar dan urus campur lantas marah pada jati akibat tamu gonggong yang menabrak bagian belakang mobilnya. Logikanya, seharusnya ini menjadi urusan antara jati dan pemilik kendaraan APV. Si gonggong menuduh mobil jati terparkir agak menengah ke jalan. Tapi saya lihat sendiri, mobil jati terparkir tidak menengah ke jalan. Ia memarkirkan kendaraannya mepet dengan rumahnya. Mungkin karena penerangan yang kurang baik sehingga pemilik mobil APV tidak sengaja menabrak/menyerempet mobil CRV milik jati atau bisa jadi orang tersebut yang menyetir tidak benar.

Ketegangan pun terjadi. Adu mulut antara gonggong dan jati terjadi dalam kurun waktu ± 15 menit dan datanglah Pak RT dan Bu RT untuk menenangi istri gonggong yang sedang emosi tinggi. Untung saja saat itu suami gonggong ada di rumah, jika tidak keributan akan menjadi lebih dahsyat. Suami gonggong lebih bisa menjaga diri untuk tidak ribut dengan tetangga, beda halnya 180◦ dengan istrinya.

Itulah bumbu-bumbu dalam kehidupan berkomplek. Yang 1 ingin begini, yang 1 ingin begitu. Layaknya theme song doraemon, “aku ingin begini, aku ingin begitu …..”.

Namanya juga komplek, depan- belakang-kanan-kiri mentok. Iya mentok karena luas tanahnya pun terbatas maju kena, mundur kena. Mbo yah kalo punya mobil dikandangin toh pak, bu jangan pada ditaruh di depan rumah. Punya mobil tapi gak punya garasi. Bikin dulu garasinya, baru punya mobil. Itu yang benar.

Rasa iri, cemburu, dan tidak mau kalah adalah beberapa unsur bumbu dalam kehidupan berkomplek. Tetangga beli ini, ada tetangga lain yang iri pengen beli juga agar tidak merasa disaingi. Well well, sekarang kembali pada masing-masing individu dalam menyikapinya.

4 pemikiran pada “Bumbu dalam Kehidupan Berkomplek

  1. Wow banget. Bagaimana kemunculan dan keributan Bu Gonggong membuat si pengemudi mobil yang menabrak itu jadi pemeran pembantu. Padahal mestinya si sopir yang menabrak itulah yang jadi pemain utama :hehe.

    Yah, punya mobil memang hak setiap orang, tapi semestinya juga kalau mau beli mobil pikir-pikir orang lain. Saya bukan penilai yang baik, karena saya tidak lihat langsung bagaimana situasi jalanan itu aslinya, tapi menurut hemat saya kalau jalanan itu sudah terlalu sempit buat jadi parkiran mobil, namun masih dipaksakan jadi tempat mobil, si pemilik mobil (Jati) harus siap kalau mobilnya kenapa-napa gara-gara ditaruh di jalan. Semepet apa pun, tapi kalau ada badan jalan yang terimbas, dia sudah mengambil hak pengguna jalan yang lain.

    1. Mobilnya sudah dipepetkan dekat rumahnya saya lihat. Mobil lain pun ketika melintasi rumah jati baik-baik saja. Mungkin efek penerangan/memang si pengendara yang ceroboh seradak seruduk. Intinya lebih baik jangan punya mobil dulu sebelum punya garasi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s