Memandangi Cahaya Lampu yang Menghiasi Sudut Kota Batu

Menikmati Kota Batu dari Ketinggian Puncak Paralayang

 

“Pernahkah kamu menikmati suasana malam dari ketinggian puncak ?” Salah satu dari kita pasti sudah pernah. Ini pertama kali saya menikmati pemandangan Kota Batu dari ketinggian puncak paralayang bersama kawan yang menjadi guide selama berada di Batu. Saya bisa melihat hamparan luas kehidupan malam Kota Batu dengan ditemani gemerlap lampu yang menghiasi sudut-sudut kota. Indah dan sangat sejuk.

Bersama Kawan (guide)
Bersama Kawan (guide)

Banyak pemuda pemudi yang berkunjung ke puncak paralayang untuk melihat dan menikmati indahnya malam di Kota Batu. Awalnya saya kira, kalau malam hari jarang ada pengunjung. Tapi pikiran saya salah, bahkan semakin malam banyak pengunjung yang berdatangan. Sore hari pukul 16.00 WIB saya bergegas menuju paralayang dengan menggunakan sepeda motor (kopling) milik kawan. Sudah lama sekali saya tidak menggunakan motor kopling, terakhir semenjak duduk di banggku SMP. Perjalanan menuju paralayang menghabiskan waktu ± 45 menit. Jalan yang ditempuh sama seperti jalan ke puncak, menanjak dan berkelok-kelok. Saya pun melewati kawasan Coban Rondo untuk menuju puncak paralayang yang terletak di kawasan Pujon.

Kurangnya penerangan membuat saya ekstra hati-hati. Ternyata tidak mudah untuk menuju puncak paralayang, jalan yang agak sempit, jelek (bukan jalan aspal) harus saya lalui perlahan-lahan. Terlebih saya menggunakan motor kopling harus oper gigi. Jalanan tersebut tidak bisa dilalui dengan menggunakan mobil untuk bisa sampai atas puncak. Jika menggunakan mobil, mobil harus diparkirkan di bawah dan diteruskan dengan berjalan (*cukup jauh).

Memasuki puncak paralayang, terdapat 2 pos. Pos ke-1 sebagai tempat pembelian tiket masuk dengan biaya sebesar Rp5.000/orang. Pos ke-2 saya diharuskan membayar lagi untuk biaya parkir dengan jumlah yang sama Rp5.000/motor. Bagi kamu yang dilanda rasa haus dan lapar, jangan khawatir karena ada warung kecil yang menyediakan makanan ringan dan minuman (hot & cold). Adapun mushola yang tersedia di puncak paralayang. Sayangnya momen ini saya abadikan melalui kamera HP jadi tidak bagus (*maaf ya). Jika dilihat dari foto ini hanya tampak seperti bintik-bintik berpendar. Tapi pemandangannya oke (*serius).

Gemerlap Cahaya Lampu Menghiasi sudut Kota Batu
Gemerlap Cahaya Lampu Menghiasi sudut Kota Batu
Memandangi Cahaya Lampu yang Menghiasi Sudut Kota Batu
Memandangimu Wahai Kota Batu
Hanya Berfoto dengan Papannya
Berfoto dengan Papan

Setelah sampai puncak, terbayar sudah keinginan saya untuk melihat Kota Batu dari atas. Tapi sayang tidak bisa ke ‘Oemah Pohon’ yang mana itu adalah tujuan utama saya. Tidak bisa ke Oemah Pohon, foto-foto di kayu yang bertuliskan Oemah Pohon pun tak apa (*di situ kadang saya merasa sedih). Saya sarankan berkunjung ke tempat ini pada pagi dan sore hari sebab bisa melihat langsung paralayang yang terjun bebas mengudara.

6 pemikiran pada “Menikmati Kota Batu dari Ketinggian Puncak Paralayang

      1. Tapi unik lho, Mbak. Menurut saya malah ada nuansa tersendiri dengan titik-titik cahaya lampu kota yang ditatap dari ketinggian bukit dan kegelapan malam itu😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s