Sesampainya di depan Goa Kreo

Menelusuri Legenda Goa Kreo

Goa terkadang identik dengan hal yang berbau mistis. Ketika mendengar kata “Goa” pikiran terbayang pada tempat yang lembab, gelap dan horror. Saya pun merasa demikian. Tetapi saya tidak (begitu) merasa takut untuk masuk dan menelusuri goa selama niatnya baik. Goa yang pernah saya jejaki yaitu goa yang berada di daerah Sukabumi dan Yogyakarta. Belakangan ini yang saya rasakan, objek wisata goa jarang terekspos ke publik. Umumnya traveler lebih suka mengekspose objek wisata pantai, gunung, bangunan kuno bersejarah, dan tempat rekreasi. Tidak dipungkiri begitupun halnya saya.

Goa Kreo adalah salah satu objek wisata yang terletak di Kelurahan Kandiri Kecamatan Gunung Pati, Semarang. Warga Semarang mungkin tidak asing lagi dengan objek wisata yang satu ini dan masih dalam satu lokasi yang sama dengan Bendungan Jatibarang. Perjalanan menuju Goa Kreo dari Semarang Kota menempuh waktu ± 30 menit (*jika lancar). Bagi yang ingin berkunjung, saya sarankan menggunakan motor atau mobil. Sebab, tidak ada angkutan yang langsung menuju tempat tersebut. Harga tiket masuk Goa Kreo sebesar Rp2.500/orang (include asuransi). “Lah kok murah terus ada asuransinya lagi ?”

Semarang
Bendungan Jati Barang

Goa Kreo merupakan goa tempat hidupnya ratusan ekor kera. Oleh karena itu, ada asuransinya (*kalo-kalo ada yang diterkam). Tapi jangan khawatir kera disini baik-baik kok tidak nakal, tidak seperti kera yang ada di Bali yang suka pecicilan ngambil barang pengunjung. Kera di Goa Kreo, asalkan jangan disentuh dan hanya sekedar memberi makan dia akan mendekat dengan senang hati.

Goa Kreo
Selamat Datang di Kawasan Wisata Goa Kreo
Jembatan Menuju Goa Kreo
Jembatan Menuju Goa Kreo
Sesampainya di depan Goa Kreo
Sesampainya di depan Goa Kreo

Legenda Goa Kreo berdasarkan informasi yang saya dapat dari guide bernama Bapak Syafei, dulunya goa ini sebagai tempat petilasan Sunan diantaranya Sunan Kalijogo, Sunan Bonang, Sunan Ampel, dan Sunan Gunung Jati. Sunan-sunan tersebut ingin membangun sebuah Masjid di daerah Demak dengan menggunakan batang pohon sebagai pondasi. Ketika batang ingin ditebang oleh para sunan, kejadian aneh terjadi dimana batang tidak bisa ditebang. Dalam perjalanan, Sunan bertemu dengan kawanan kera ekor panjang. Mereka pun saling berkomunikasi. Kera yang ditemui memiliki warna bulu yang berbeda, ada warna hitam, putih, kuning dan merah. Masing-masing warna memiliki arti tersendiri. Kera hitam melambangkan tanah yang subur, kera putih melambangkan kesucian, kera kuning melambangkan angin dan kera merah melambangkan keberanian.

Kawanan kera mengajak Sunan ke sebuah tempat untuk meminta petunjuk Yang Kuasa. Dalam persemediannya, sunan diberikan petunjuk agar batang pohon bisa ditebang. Sunan pun kembali ke dalam hutan untuk menebang batang dengan menggunakan selendang yang dibawanya. Seketika itu, batang pohon berhasil ditebang. Lalu, batang dibelah menjadi dua bagian dan dibawa ke tempat persemedian. Keesokan harinya, Sunan membawa kembali batang tersebut menuju Masjid. Kawanan kera saat itu ingin ikut dengan para Sunan. Akan tetapi, Sunan tidak mengijinkan kawanan kera untuk ikut. Sunan menitipkan amanah untuk kawanan kera agar menjaga tempat ini (yang sekarang dikenal dengan nama “Goa Kreo”). Kera pun menuruti kata-kata Sunan. Dalam perjalanan, batang yang dibawa oleh para Sunan terjatuh dan tenggelam. Namun, batang sisanya tertanam (ditancapkan) yang dikelilingi oleh pohon kecil bernama Pohon Kerinci.

Goa Kreo
Alur Cerita Awal Mula Goa Kreo (Part 1)
Goa Kreo
Alur Cerita Awal Mula Goa Kreo (Part 2)
Goa Kreo
Alur Cerita Awal Mula Goa Kreo (Part 3)
Goa Kreo
Alur Cerita Awal Mula Goa Kreo (Part 4)

Semasa hidupnya, Sunan suka dengan makanan sate kambing. Sampah berupa tusukan sate dibuangnya ke tanah dan tumbuh menjadi bambu yang tercium seperti bau kambing. Bambu tersebut kini dijaga dan dipelihara oleh warga sekitar. Goa Kreo yang hingga saat ini dijaga oleh ±650 ekor kera panjang yang konon jumlahnya tetap (konstan) tidak bertambah dan berkurang. Warga tidak pernah menemukan bangkai kera yang mati. Kawanan kera membagi kelompoknya menjadi 2 kubu yaitu kubu atas dan kubu bawah. Masing-masing kubu mempunyai 2 raja. Alasan kenapa kera tidak boleh disentuh atau dipegang karena selalu dilindungi oleh rajanya. Rajanya akan marah, jika anak buahnya disentuh.

Raja Kera Penghuni Goa Kreo
Raja Kera Penghuni Goa Kreo

Kera disini mudah sekali berinteraksi dengan para pengunjung. Setiap bulan Syawal di Goa Kreo digelar tradisi Sesaji Rewondo, sebagai bentuk rasa peduli terhadap kera-kera dengan memberinya makan. Makanan (layak seperti makanan manusia) yang khusus diperuntukkan oleh kera tidak boleh dimakan oleh manusia. Pernah kejadian ada yang memakan makanan tersebut tiba-tiba merasakan hal aneh pada dirinya. Fisik Goa Kreo yang saya lihat beberapa waktu lalu masih terjaga dengan baik walaupun ada coretan tangan jahil para pengunjung. Hingga saat ini, masih ada segelntir orang yang melakukan semedi di dalam goa mulai pukul 24.00 WIB hingga pukul 04.00 WIB. Guide saya menuturkan bahwa ketika dia memasuki goa ini (meskipun sudah berkali-kali), rasa merinding terkadang muncul. Dan saya mendapatkan kejadian aneh, ketika saya memasuki goa di samping hawa yang beda (*wajarlah namanya juga goa) tiba-tiba kamera ponsel saya tidak bisa digunakan saat ingin memotret (*yasudahlah lupakan). Goa Kreo ini memiliki kedalaman 7m.

Goa Kreo (Tampak Luar)
Goa Kreo Tampak Luar
Goa Kreo Tampak Dalam
Goa Kreo Tampak Dalam

Masih dalam satu tempat yang sama, adapun goa lain yang berada di sisi kiri Goa Kreo yaitu Goa Landak dengan kedalaman 8m. Goa Landak konon katanya, goa yang dahulu dihuni oleh putri landak dan kawanan hewan landak. Tapi saat ini goa tersebut sudah kosong, tidak ada hewan landak yang hidup. Sehabis dari goa, selanjutnya saya diajak oleh guide (Pak Syafei) ke atas untuk menyusuri kawasan ini lebih dalam. Tanjakan ke atas lumayan bikin saya capek, tapi pemandangannya bagus dan tidak boleh dilewatkan. Bagian atas, saya ditunjukkan dan diceritakan oleh Pak Syafei tempat yang biasa digunakan oleh warga untuk reriuangan selametan yang diadakan setiap Selasa kliwon dan Jumat kliwon (*mendengar berbau kliwon hawa saya jadi beda). Lalu, Pak Syafei pun bercerita tentang lumbung padi yang dahulu dibawa oleh warga sekitar (jaman sunan). Lumbung yang berbahan dasar batu sebanyak 3 buah dipikul oleh warga berjumlah 9 orang. Tidak kuat menahan beban yang dibawa, lumbung tersebut pun ada yang terbelah dan hingga saat ini belahannya belum ditemukan.

Goa Landak
Goa Landak
Tempat Reriungan Slametan Warga
Tempat Reriungan Slametan Warga
Lumbung Padi
Lumbung Padi
Jalan Tanjakan Goa Kreo
Jalan Tanjakan Goa Kreo
Pemandangan (atas) Goa Kreo
Pemandangan (atas) Goa Kreo

Saran terakhir saya, seandainya kamu ingin berkunjung ke tempat ini siapkan fisik dan jaga kesehatan. Sebab, 150 anak tangga (*kata guide) siap menanti kamu.

8 pemikiran pada “Menelusuri Legenda Goa Kreo

  1. Kera Bali tampaknya terkenal dengan tingkahnya yang ferocious ya Mbak :huhu.
    Setuju Mbak. Memang wisata gua sejarah ini masih belum banyak yang ekspos dan eksplor. Ah, semoga suatu hari saya bisa ke sana :)).

      1. Siap, Mbak, mudah-mudahan saya bisa pergi ke gua di Tulungagung itu (saya lupa namanya), sudah tidak sabar sayanya :hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s