Patung Laksamana Cheng Ho

Sam Poo Kong, Napak Tilas Laksamana Cheng Ho di Semarang

Bangunan yang serba merah tak khayal menjadi perburuan para penggila traveling. Mulai dari yang sekedar ingin tahu, mencari dan menggali informasi untuk dijadikan bahan postingan di blog, serta view yang oke sebagai bahan fotografi. “Bangunan apakah yang dimaksud ?” kamu mungkin sudah tahu apa yang saya maksud ketika membaca judul dari tulisan ini. Yup benar, bangunan tersebut adalah sebuah Klenteng. Klenteng yang selain menjadi tempat peribadatan penganut agama Budha, Kongucu dan Toisme juga sebagai tempat wisata.

Bangunan serba merah ini ibaratkan magnet bagi traveler yang menarik untuk dikunjungi. Sam Poo Kong, salah satu Klenteng yang menjadi target buruan saya terletak di Semarang-Jawa Tengah. Sebab, ketertarikan saya pada kisah napak tilas sesosok Laksamana Cheng Ho dan bangunan di sekelilingnya.

Gerbang Klenteng Sam Poo Kong
Gerbang Klenteng Sam Poo Kong

Tak jauh dari tempat penginapan ± 10 menit saya pun tiba di kawasan Sam Poo Kong. Selembar uang kertas Rp10.000 dari kantong saku celana saya berikan kepada petugas loket dan bergegas masuk. Memasuki Klenteng, dalam hati berdecak kagum (wah wah). Baru kali ini saya melihat Klenteng yang sebesar dan seluas ini. Hp pun langsung mencuat dari persembunyiannya dalam saku celana. Mulailah saya jepret sana sini di bawah panas terik matahari tanpa pelindung (jaket dan topi).

Sam Poo Kong

Sam Poo Kong

Sam Poo Kong

 Istimewanya Sam Poo Kong selain Klenteng yang besar dan luas yaitu adanya 6 patung dewa berdiri tegak di depan salah satu bangunan sambil memegang pusaka ditangan. Entahlah siapa nama dewa tersebut karena saya belum sempat berkenalan denganya. Dan yang teristimewa dari tempat ini yakni adanya patung Laksamana Cheng Ho berwarna emas yang kokoh berdiri menjulang tinggi disertai dengan autobiografi mengenai napak tilas singkatnya.

Patu Dewa
Patu Dewa (entahlah siapa namanya)
Patung Laksamana Cheng Ho
Patung Laksamana Cheng Ho

Sam Poo Kong Dalam autobiografinya menjelaskan ‘Laksamana Agung Zheng He lahir di Kunyang-Yunnan-Tiongkok pada tahun 1371. Dimasa kekaisaran Yong Le, Dinasti Ming beliau memimpin armada Muhibah mengunjungi negara-negara disebrang lautan sebagai duta perdamaian. Di tahun 1405, pelayaran Muhibah pertama selalu memimpin 62 kapal megah, berangkat dari Suzhou, pelabuan Liujiagang mengunjungu Champa, Sumatra, Palembang, Jawa, Srilangka dan Kalikut (India Barat). Dalam tujuh kali pelayaran besar beliau telah berhasil mengunjungi Pula, Selat Hormuz, Teluk Persi, Aden, Afrika, Mogadishu, Burawa (Somalia) dan Malindi (Kenya). Menurut Gavin Menzies, sejarahwan angkatan laut Inggris sejumlah kapal dari armadanya dibawah pimpinan Hong Bao telah mencapai benua Amerika pada tahun 1421. Beliau wafat pada tahun 1435, ditengah perjalanan pulang dari Kalkut. Jenazah beliau diperkirakan dihanyutkan di tengah laut tetapi adapula yang meyakini bahwa beliau di kebumikan di Semarang’. Beruntunglah Semarang dan daerah lain di Indonesia yang pernah dijejaki oleh sang Laksamana Cheng Ho. Tapi saya rada janggal yang benar namanya ‘Cheng Ho atau Zheng He’ ? ya apapun itu jejak tersebut meninggalkan sebuah bukti peninggalan yang menambah kekayaan sejarah di Indonesia.

Sam Poo Kong

Sam Poo Kong

Berhubung saya tidak menggunakan guide dalam penelusuran Klenteng Sam Poo Kong, sejarah mengenai Klenteng ini pun saya tidak begitu tahu. Saya hanya mengetahui napak tilas Laksamana Cheng Ho melalui autobiografinya (syedih). Melalui blog tetangga Rijal Fahmi Mohamadi menuturkan, ada beberapa bangunan yang ada di Klenteng. Bangunan utama adalah sebuah gua batu yang juga tempat utama di kawasan Klenteng ini. Gua batu dulunya digunakan Laksamana Cheng Ho untuk yang beragama Islam sebagai tempatnya melakukan ibadah sholat. Gua aslinya sendiri sebenarnya sudah runtuh karena longsor pada tahun 1704, ketika Laksamana Cheng Ho melanjutkan perjalanannya. Namun, gua batu yang memiliki mata air yang tak pernah kering tadi dibangun lagi sebagai duplikat yang asli karena dipercaya sebagai petilasan dan tempat yang pernah ditinggali Sam Po Tay Djien atau Laksamana Cheng Ho.

Selain Gua Batu, area Klenteng Sam Poo Kong Gedong batu terdiri atas beberapa bangunan lain. Seperti beberapa bangunan pemujaan utama Klenteng Besar, Klenteng Tho Tee Kong dan beberapa tempat pemujaan lain yang dikenal dengan Kyai Juru Mudi, Kayai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi dan mbah Kyai Tumpeng.

***

Terima kasih teruntuk kak Fahmi yang sudah diizinkan berbagi tulisannya sebagai pelengkap dalam blogku.

20 pemikiran pada “Sam Poo Kong, Napak Tilas Laksamana Cheng Ho di Semarang

  1. Barusaaan kemarin ngajakin si alidabdul dot com ke masjid Cheng Ho di Palembang. “Kurang kerasa tingkoknya” kata Alid. Dan bener aja, ngeliat foto di postingan ini, masjid cheng ho Palembang mental abis >.<

      1. he he.. ya pengen lagi ke sana.Mudah-mudahan suatu saat nanti dapat kesempatan. kalau nggak salah ingat saya ke sana antara tahun 95 atau 96 deh.. besar kemungkinan sudah ada banyak perubahan.

    1. Makasih. Btw salam kenal istrinya Kak Fahmi. Suami-istri yang kompak dalam dunia pertravelingan. Patut di contoh ini haha. Emang waktu itu gak bareng sama Kak Fahmi ke Semarang ?

      1. Ih jangan panggil aku kak, panggil nama aja sepertinya kita seumuran/lebih tua dirimu *lho* hihihi. Tau donk kalo udah gak available wkwkwk. Amin tinggal menunggu waktu eksekusi😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s